Ustad M Yazid : Ibarat Seekor Bebek, Cocok Dilepas di Empang

ustadz-yazid

Ustadz Muhammad Yazid. (foto : MJ)

CIPUTAT – Berkiprah di lembaga sosial tidak menjadi hal yang menarik bagi banyak orang. Apa lagi bidang yang digeluti mengurusi kaum dhuafa yang kebanyakan adalah kaum marginal dengan miskin harta bahkan pengetahuan agama.

Tidak demikian bagi sosok yang satu ini, hal itu justru menjadi daya tarik dan minat tersendiri bagi Ustadz Muhammad  Yazid. Sosok yang tidak begitu dikenal banyak orang, tetapi memiliki peran yang sangat banyak membawa manfaat bagi orang banyak.

Ustad Yazid, begitu ia akrab disapa, sehari-harinya berkiprah di Layanan Kesehatan Cuma-Cuma (LKC) Dompet Dhuafa di bagian Bina Rohani Pasien (BRP). Ia senantiasa menjalani tugasnya dengan penuh ketekunan, bahkan pekerjaannya itu sudah menjadi bagian dari hidupnya.Ia menuturkan kalau profesi yang digelutinya sangat cocok dengan bidangnya.

 “Kebetulan ane merasa di LKC itu sesuai dengan kafaah (profesi) ane.  Penempatannya di Rohani termasuk juga ada beberapa kelanjutan program Ust Suryadi (koordinator BRP sebelumnya) sendiri,  yang memang sepertinya itu dunia ane. Kalau ane istilahin, ibarat bebek kalau dilepas di empang, cocok. Disamping memang banyak tantangan yang ane dapet dan jadi bahan ilmu buat ane sendiri, “  tuturnya kepada awak media LKC beberapa waktu lalu.

Ustad Yazid menceritakan, awal keterlibatannya di LKC 2004, saat itu ia bergabung menjadi relawan yang mengisi pengajian peserta LKC dibeberapa kelurahan wilayah Ciputat, hingga direkrut menjadi karyawan 2010. Saat dibentuk program Bina Rohani Pasien (BRP) yang beranggotakan 12 orang, ia menjadi salah seorang yang ditugaskan  untuk memberikan bimbingan rohani dibeberapa rumah sakit yang bekerja sama dengan LKC Dompet Dhuafa.

“Buat ane sendiri kebagian tugas di RS Tangerang dan Pasar Rebo disamping mendampingi pasien-pasien yang ada di LKC,”  katanya.

Ustadz Yazid mengungkapkan,  berkiprah di LKC Dompet Dhuafa merupakan kesitimewaan yang menjadi daya tarik baginya. Karena setiap hari ia mesti berinteraksi dengan banyak pasien, khususnya di LKC yang  notabene adalah para dhuafa yang butuh bimbingan pengetahuan agama. Hal itu semakin memacunya untuk berbagi ilmu agama dan nasihat kepada setiap yang membutuhkan, hingga menjadi sarana dakwah baginya.

“Beda kalau ditempat lain yang memang orientasinya hanya pulus (uang), tetapi beda dengan di LKC,  walaupun  kita tidak menafikan itu, tapi lebih dominan ane lebih tertarik tantangan dari sisi rohani di LKC,” kata laki-laki kelahiran Jakarta, tahun 1962 ini.

Ia berharap melalui program BRP, dapat memberikan perubahan terkait pengetahuan agama para peserta LKC Dompet Dhuafa yang masih minim. Seperti halnya tatacara sholat dan berwudhu  bagi orang sakit. Terlebih lagi saat dhuafa sakit butuh motivasi untuk sehat.

“Kita sama ketahui begitu dominannya peserta LKC yang konotasinya dhuafa serta minim pengetahuan sisi agama dan tentang  keislaman.  Disitu ane merasa bertanggung jawab untuk bagaimana bisa memberikan warna keislaman dan keagamaan buat peserta LKC,”  imbuhnya.

Ia pun menyarankan LKC Dompet Dhuafa sebagai lembaga yang mempresentasikan keislaman, semakin kental dengan  nilai-nilai rohani dan meningkatkan peran ukhuwah (kebersamaan) yang menjadi dasar aturan didalamnya. -Mjundi

About mjundi

aslibetawi rawabelong, hobby berpetualang, baca buku, olahraga, and wirausaha dll dech

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: