“Pak Minta Uang Seribu !”

Sumber Foto : Flickr.com

“Pak minta uang seribu !”. Begitu kata yang terdengar dari seorang bocah saat aku berkendara dan berhenti di perempatan lampu merah Jl.Asia Afrika Jakarta Selatan menuju Palmerah.

Kejadian ini sering kali aku temui setiap pulang bekerja pukul 22.00 malam. Seorang bocah perempuan usia sekolah dasar menghampiri lalu meminta uang seribu rupiah kepada setiap pengendara. Bahkan dengan percaya dirinya dan tanpa malu-malu sambil menyodorkan tangan dengan wajah sambil memelas berharap pengendara memberi uang.

Setelah selesai meminta-minta, mereka kembali bermain dipinggir jalan, berlari, bercanda dan bersenda gurau bersama rekan peminta-minta seusianya. Bahkan tak sungkan diantara mereka ada tertidur di pinggir trotoar, seolah luasnya jalan dan temaramnya lampu penerang jalan menjadi tempat tinggal yang nyaman bagi mereka.

Pernah aku terusik untuk bertanya kepada bocah itu, “kenapa meminta-minta ? Kataku penasaran. “Cuma buat jajan sekolah Om”.Jawabnya singkat.

Tak kuasa hati menahan sedih dan lirih, serta prihatin karena saat terlontar kata dari mulut wajah seorang bocah yang lugu dan tak berdosa itu. Pikiranku teringat bocah kecil di rumah. Buah hatiku yang berusia tidak jauh berbeda seperti mereka. Saat malam mereka telah lelap tertidur karena lelah bermain, bercanda dan senda gurau dengan ceria bersama teman sebayanya di siang hari.

Namun bagi mereka anak jalanan dinginnya udara malam bukanlah waktu untuk istirahat dan tertidur lelap melainkan untuk mencari belas kasihan orang sekedar untuk uang jajan. Mereka harus menghabiskan waktu malamnya dan mengorbankan masa anak-anaknya yang penuh dengan keceriaan dan masa pertumbuhan yang butuh perhatian dan kasih sayang orang tua.

Haruskah mereka mengorbankan waktunya di jalan hanya sekedar mencari uang untuk jajan ?. Kemanakah orang tua mereka ? Orang tua yang harus menanggung dan bertanggung jawab untuk membiayai hidup mereka, mendidik dan mengasuh serta mengayomi.

Apa yang telah di ajarkan kepada anak-anak mereka sehingga harus tumbuh dewasa dengan meminta-minta. Kemiskinan yang memaksa hingga mengekspolitasi anak  menjadi peminta-minta atau kebiasaaan – karena sulitnya bekerja- yang sudah menjadi profesi ? Salah siapakah ini, orang tua, pemerintah atau kita yang sudah tidak peduli lagi dengan mereka, kaum yang tertindas dan terpinggirkan ditengah persaingan yang keras dan gemerlapnya kota Jakarta.

Yang paling memprihatinkan lagi kondisi ini hampir ada di setiap perempatan lampu merah kota. Di tengah gemerlapnya kota Jakarta serta kesibukan penguninya yang hendak pulang kerumah setelah lelah bekerja atau sekedar jalan malam menikmati suasana kota, mereka harus mengais rezeqi dengan cara meminta-minta, sekedar mengharap uang seribu rupiah.

Kadang aku berfikir manusia normal mana yang sadar mau menjatuhkan harga diri martabatnya dengan cara meminta-minta kalau bukan karena keadaan dan kemiskinan yang sangat memaksa, apalagi harus mengekslopitasi anaknya. Terpaksa karena himpitan ekonomi yang tidak mencukupi hidup walaupun sekedar untuk makan mereka atau menganggur karena sulitnya bekerja di kota. Sehingga mereka harus “mendidik” anaknya menjadi peminta-minta. Miris, sedih, getir dan bercampur marah terhadap lingkungan yang terpaksa harus membentuk mereka menjadi peminta-minta.

Mungkin bagi sebagian warga kota Jakarta melihat fenomena seperti ini merupakan suatu hal yang biasa. Terlalu biasanya bahkan harus ada perda yang melarang memberikan uang kepada mereka yang meminta-minta di jalan raya. Apakah ini jadi solusi ? Fakta di lapangan sepertinya, Tidak. Pengemis tidaklah hilang dan kemiskinan tidak juga kunjung reda.

Entah hati ini yang sudah mati hingga menghilangkan rasa peduli lagi kepada kaum miskin kota ataukah akal pemerintah yang sudah tumpul bagaimana menangani dan mencari solusi untuk mereka. Bahkan terkadang mereka harus ditangkap, di usir dan di kejar seperti layaknya koruptor uang negara yang jumlahnya milyaran rupiah.

Pemandangan ini terus saja terjadi dan berulang seolah tak pernah ada solusi untuk menghilangkan kebiasaan mereka untuk meminta-minta.
Bukankah mereka juga ingin hidup layak sebagaimana manusia pada umumnya. Ingin menyekolahkan anaknya hingga tamat sarjana, ingin makan enak dengan menu penuh selera, dan ingin punya rumah sebagai tempat tinggal yang nyaman dan indah, agar senantiasa dapat berkumpul bersama keluarga dalam istirahatnya. Merekapun ingin menikmati hasil pembangunan kota. dan masih banyak lagi keinginan mereka sebagaimana keinginan kita.

Mengapa mereka harus hidup miskin dan menderita sehingga harus menjadikan anaknya peminta-minta sementara ada orang yang berlebih dan melimpah dengan harta dunia. Inikah drama dunia yang disutradai oleh Tuhan dengan manusia sebagai pemerannya agar hidup untuk saling memberi dan berbagi. Karena miskin dan kaya hukum alam dan ketentuan yang telah ditetapkan-Nya dan tidak akan terpisahkan.

Saatnya kita untuk berbagi, peduli dan berbuat yang manfaat bagi mereka yang membutuhkan uluran tangan kita. We care & We Share Together !

*Tulisan ini sekedar ekspresi seorang praktisi social entrepreneur anak kota jakarta.

Tag:, ,

About mjundi

aslibetawi rawabelong, hobby berpetualang, baca buku, olahraga, and wirausaha dll dech

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: