Akhlaq “Jamilah” tak se “Jamiil” Namanya

Namanya Jamilah, wajahnyapun jamiil alias cantik.  Berkulit putih, hidung mancung, kearab-araban, tinggi semampai dan menggunakan kerudung di kepala semakin menambah citra Islami dalam dirinya . Terlebih-lebih aktifitas kesehariannya bergelut di salah satu perusahaan yang berlebelkan syariah. Wajar kalau banyak kaum adam yang terpesona saat pertama kali memandangnya.

Namun siapa sangka di balik penampilannya yang Islami dan bercitrakan syariah membuat kaget dan tercengang setiap kita saat berhadapan dengannya.

Apa sebab ? ketika saya berjumpa di kantornya bekerja. Saya mohon izin kepada Ibu Jamilah  untuk memindahkan mobilnya yang menghalangi mobil saya untuk keluar dari perkarangan parkir. Saat itu mobilnya persis berada di belakang mobil saya yang pertama kali masuk di lahan parkir halaman kantornya.

Dengan cara yang santun dan ramah saya menemui dan mengatakan izin agar mobil Ibu Jamilah bisa di di pindahkan mengingat mobil saya harus keluar. Ibu Jamilah langsung mengatakan ,”Kenapa bapak tidak dari tadi bilang kalau mobil bapak mau keluar saat saya baru datang, kalau Cuma sebentar jangan di parkir di depan”. Begitu jawabnya dengan nada tinggi dan wajah penuh amarah. Bak mendengar petir di siang bolong dan shock sekaligus kaget mendengar perkataan dan melihat sikap yang di sampaikan kepada saya.

Tidak cukup sampai di situ hingga di luarpun Ibu Jamilah terus berkomentar dengan nada dan sikap sangat tidak Islami sebagaimana penampilannya, marah dan dengan nada tinggi. ”Cepat pak kalau mau di keluarkan mobilnya jangan terlalu lama kalau saya sudah nunggu di luar”. Kata Ibu Jamilah sambil berteriak kepada saya saat sedang mencari sopir mobil saya.

Hingga selesai mobil saya dapat keluar, sambil menahan emosi untuk tidak terpancing amarahnya dengan lembut sayapun langsung mengucapkan terima kasih kepadanya. Tanpa menjawab dan dengan wajah kesal lalu Ibu Jamilah masuk kembali ke dalam kantornya.

Sepanjang perjalanan, sayapun berpikir dan bertanya pada diri saya sendiri ”Apakah ada yang salah dalam sikap saya saat meminta izin kepada ibu Jamilah tadi”. Ah..sepertinya tidak sebab saya sudah mengutarakannya dengan cara – cara yang baik dan santun. Hingga saya coba berhusnudzon mungkin saja saat itu Ibu Jamilah sedang ada masalah di tempat lain hingga amarahnya tumpah ketika peristiwa tadi.

Tapi amat sangat di sayangkan jika saja dugaan saya benar –anggaplah benar- jika itu di lakukan di luar kesadaraan Ibu Jamilah karena sedang ada masalah.

Kenapa ? sebab perilaku yang di pertontonkan di area publik kepada saya dengan sikap yang tidak ramah dan santun akan merusak citra Islam sekaligus perusahaan tempatnya bekerja yang menyandingkan lebel syariah. Akhlaq Ibu Jamilah yang tidak mencerminkan akhlaq Islami itu akan menjadikan orang antipati terhadap Islam dan perusahaan tempatnya bekerja.

Benar ungkapan seorang Sahabat Ali bin Abi Thalib hingga perlu menjadi pedoman bagi kita semua, karena akhir-akhir ini memang keindahan Islam benar-benar tertutup oleh perilaku kaumnya “Al-Islamu mahjubun lil muslimin”.

Banyak contoh-contoh dan pelajaran Akhlaq yang di sampaikan oleh Rasululloh kepada kita umatnya melalui hadisnya. Diantaranya adalah, sabda rasululloh ”Kamu tidak bisa memperoleh simpati semua orang dengan hartamu tetapi dengan wajah yang menarik (simpati) dan dengan akhlak yang baik. (HR. Abu Ya’la dan Al-Baihaqi)

Dan dalam hadis lain Rasululloh saw bersabda, ”Kebajikan itu ialah akhlak yang baik dan dosa itu ialah sesuatu yang merisaukan dirimu dan kamu tidak senang bila diketahui orang lain. (HR. Muslim)

Sabda Rasululloh saw,” Bukan akhlak seorang mukmin berbicara dengan lidah yang tidak sesuai kandungan hatinya. Ketenangan (sabar dan berhati-hati) adalah dari Allah dan tergesa-gesa (terburu-buru) adalah dari setan”. (HR. Asysyihaab)

Sabda Rasululloh saw,” Paling dekat dengan aku kedudukannya pada hari kiamat adalah orang yang paling baik akhlaknya dan sebaik-baik kamu ialah yang paling baik terhadap keluarganya”. (HR. Ar-Ridha)

Sabda Rasululloh saw,”Di antara akhlak seorang mukmin adalah berbicara dengan baik, bila mendengarkan pembicaraan tekun, bila berjumpa orang dia menyambut dengan wajah ceria dan bila berjanji ditepati”. (HR. Ad-Dailami)

Seorang sahabat berkata kepada Nabi Saw, “Ya Rasulullah, berpesanlah kepadaku.” Nabi Saw berpesan, “Jangan suka marah (emosi).” Sahabat itu bertanya berulang-ulang dan Nabi Saw tetap berulang kali berpesan, “Jangan suka marah.” (HR. Bukhari)

Teramat banyat mutiara pelajaran tentang akhlaq seorang muslim melalui hadis yang di sampaikan oleh Rasululloh saw, Nabi Muhammad yang senantiasa menjadi teladan bagi umatnya.

”Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah”. (Al Ahzab : 21)

Semoga peristiwa tadi cukup memberi pelajaran bagi kita, sehingga kita sebagai muslim dan muslimah senantiasa mencerminkan akhlaq islami di manapun dan kepada siapapun saat bermuamalah.

Wallahu’alam.

 

 

Tag:, , ,

About mjundi

aslibetawi rawabelong, hobby berpetualang, baca buku, olahraga, and wirausaha dll dech

One response to “Akhlaq “Jamilah” tak se “Jamiil” Namanya”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: