Melodrama Dunia Maya

Oleh : Reza Indragiri Amriel

We found love through Facebook…and married!” (Neil Harwood dan Liz Gavin)

Rupert Murdoch, saudagar global di industri komunikasi dan media massa, pernah bilang—kurang lebih, “Kuasai media, agar Anda bisa kuasai dunia.” Pada zaman sekarang, syarat menguasai media adalah menguasai teknologi komunikasi. Lintas suku, lintas bangsa, lintas agama, semua orang harus melek informasi dan memastikan jari-jemarinya akrab dengan teknologi informasi. Termasuk Internet. Dari situ, bisa dipahami, barangsiapa yang pada hari ini masih gagap memanfaatkan teknologi untuk mencari informasi, bersiaplah menjadi manusia purbakala. Purbakala secara mental, purbakala secara peradaban.

Ketegasan seperti itu sengaja diberikan, sebagai ungkapan kegundahan saya saat beberapa waktu mendengar isu akan adanya fatwa pengharaman terhadap Facebook. Jika isu berubah menjadi kenyataan, maka ucapkan “selamat berpisah” kepada pertemanan cyber.

Untungnya, gagasan tentang fatwa ini hanya hidup di lingkungan sejumlah ulama yang sangat terbatas. Benar, kelakuan usil, tengil, hingga bathil bisa muncul di Facebook.  Tapi budi perangai santun juga boleh hadir di tempat yang sama. Di Facebook juga tidak ada larangan terhadap kampanye ideologi garis keras maupun pemikiran-pemikiran cerdas.

Berkat Facebook pula, berbagai rupa kreativitas menemukan wadah penyaluran barunya. Siapapun tahu, kunci sukses orang-orang semacam Bill Gates, Sir Isaac Newton, dan Albert Einstein adalah karena mereka kreatif dan—tentu saja—berhasil menuangkan kreativitas mereka ke media-media yang ada.

Itu artinya, sampahkah atau berliankah yang bertaburan di Internet—termasuk Facebook—adalah sepenuhnya tergantung pada si pengguna. Begitu pula untuk kepentingan penyebar-luasan ajaran tentang ayat-ayat Tuhan.

Tidak percaya? Coba lihat statistik. Sejak Mei 2006 hingga Mei 2007, tercatat lonjakan 89 persen, dari sekitar 14 juta ke 26 juta pengguna Facebook. Rata-rata waktu yang dipakai masing-masing pengguna Internet meningkat dari 138 ke 186 menit. Sekarang bayangkan jika para pemuka agama lebih percaya diri masuk ke ruang-ruang maya. Dakwah mereka justru bisa tersiar lebih luas dan lebih cepat lagi kalau saja mereka mau memanfaatkan laman-laman gratis semacam Facebook, Myspace, Twitter, dan sejenisnya. Berkat itu semua, pesan-pesan kebenaran akan lebih gencar berseliweran. Semangat persaudaraan juga merentang lebih panjang. Bukankah itu paras dunia yang diidam-idamkan?

Momentum (Lagi) Fatwa Haram?

Para pembaca mungkin ingat lirik lagu ini: ”Papa alpha charlie alpha romeo, mengajakku gombal di udara, memang cinta asyik di mana saja, walau di angkasa.” Lagu jadul yang dinyanyikan Warkop Prambors itu bercerita tentang asmara di udara, asmara yang dikirim lewat handie talkie.

Ada pula Vina Panduwinata. Berbunga-bunganya hati terlihat benar tatkala Vina bernyanyi, ”Sepucuk surat yang wangi, warnanya pun merah hati, bagai bingkisan pertama, tak sabar kubuka.”

Bukan semata percintaan yang polos, bahkan terkesan konyol, ada pula yang berbau skandal. Contohnya, Trio Macan, ”Bang SMS siapa ini Bang, pesannya pake sayang-sayang, nampaknya dari pacar abang, Bang hati ini mulai tak tenang.”

Begitulah. Setiap zaman punya caranya sendiri—punya teknologinya sendiri—untuk memadu romansa. Yang dulu sedemikian trendi, sekarang terasa baheula. Yang semula begitu keren, sekarang norak. Yang sekarang sedang in sebagai kurir pesan bagi insan yang sedang diamuk kasmaran adalah Facebook, Twitter, dan media maya lain.

Facebook memang asyik. Termasuk untuk bercinta. Sebuah survei yang dikutip Telegraph pada tahun lalu membuktikan itu. Dari tiga ribu responden berusia 20 hingga 40 tahun, 46 persen di antaranya berpendapat jauh lebih mudah bercengkerama melalui situs jejaring sosial ketimbang bertemu langsung. Pengguna juga merasa lebih percaya diri sekaligus lebih mampu memelihara persahabatan di ruang-ruang maya.

Hampir sepertiga responden bahkan mengaku, menemukan cinta menjadi lebih hemat waktu berkat media maya. Menjalin asmara lewat cara serupa juga lebih keren  daripada cara-cara tradisional. Itu pula alasan mengapa lebih dari seperempat responden sengaja mengunggah foto-foto terbaik mereka, dengan harapan menemukan jodoh di dunia maya.

Tapi baik kepingan logam, selalu ada dua sisi. Facebook pula yang nyatanya sudah menjadi pintu malapetaka bagi seorang gadis bernama—sebut saja—Tina. Tina pekan lalu sempat menghilang, setelah berkenalan dengan seorang lelaki tengik melalui Facebook. Episode berikutnya bikin uring-uringan: Tina terpikat, berjumpa darat, menghilang singkat, dan—astaghfirullah—kegadisannya pun dikabarkan lenyap. Semakin dramatis; melodrama si Tina dan kekasihnya itu berlangsung pada bulan Februari, bulan yang oleh sebagian orang diidentikkan sebagai bulan kasih sayang.

Tina menambah satu lagi jumlah korban berjenis kelamin perempuan yang mendapat mudharat di ajang pertemanan maya. Meyer dan Cukier (2006) menemukan, pengguna jejaring online yang memakai nama perempuan ternyata menerima komentar-komentar seksual 25 kali lebih banyak dari posters berjenis lelaki.

Studi oleh Royal Free Hospital dan University College Medical School juga menyimpulkan, perempuan lebih sering dibuntuti dan diserang para penguntit maya (cyberstalkers). Begitu mengancamnya fenomena stalking, mendorong pemerintah Inggris mengajukan Protection From Harrasment Act pada tahun 1997. Tiga tahun berikutnya, unit kepolisian anti-stalking pertama dibentuk untuk mengatasi maraknya perilaku stalking.

Cinta memang berjuta rasa. Media-media daring pun membuat fantasi cinta semakin gegap gempita, semakin penuh dengan bunga. Cinta atau tepatnya iming-iming cinta yang diterima Tina tak lebih dari sebuah serpihan saja. Imajinasi Tina sendiri yang kemudian menyempurnakan serpihan itu menjadi mozaik yang indah bahkan melebihi keindahan aslinya, menyamarkan kebusukannya.

Tina lupa, imajinasi ibarat batas angkasa, dan seperti Kapten James T. Kirk di Star Trek bilang, “Space is the final frontier.” Terbukti sudah, fatamorgana di ruang maya yang nyaris tanpa batas itu membuat cecunguk sekalipun bisa terlihat di mata Tina laksana pangeran tertampan dari negeri impian.

Kasihan Tina. Bahkan barangkali anak-anak kita, adik-adik kita yang sebaya dengannya juga menghadapi risiko serupa. Wejangan yang sama, seperti yang Itje Trisnawati pernah katakan, untuk mengatasi cinta buta: “Kalau memang cinta, kalau benar sayang, pacar kita berpacaran, pakailah aturan, jangan lupakan pesan enyak babe, demi kebaikan.”

Penulis adalah lulusan Melbourne University, Australia, dan kini mengajar psikologi forensik di Universitas Bina Nusantara, Jakarta

Sumber : http://berita.liputan6.com

Tag:, , ,

About mjundi

aslibetawi rawabelong, hobby berpetualang, baca buku, olahraga, and wirausaha dll dech

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: