Setengah Juta Anak Setiap Tahun Alami Efek Samping Obat

KOMPAS.com — Peresepan obat yang irasional sudah tentu merugikan konsumen karena bisa menimbulkan efek samping yang berbahaya, terutama bagi bayi dan anak-anak kecil. Studi terkini menunjukkan, lebih dari setengah juta anak di Amerika Serikat setiap tahunnya mengalami efek samping dari pengobatan yang diterimanya.

Berdasarkan analisis data dari National Center for Health Statistics terhadap pasien rawat jalan antara tahun 1995-2005 diketahui ada 585.992 pasien anak hingga remaja usia 18 tahun yang berobat. Kebanyakan memang melakukan rawat jalan, tapi 22 persen di antaranya harus dirawat di unit gawat darurat akibat efek samping obat tadi.

“Kami menemukan bahwa dari 1000 anak ada 13 pasien yang berobat karena efek samping obat. Ini mengindikasikan mereka mengalami komplikasi serius,” kata ketua peneliti Dr.Florence Bourgeois dari divisi gawat darurat pediatrik di Children’s Hospital Boston,AS.

Mayoritas pasien yang berobat adalah anak berusia 4 tahun ke bawah (43 persen), dan diikuti dengan remaja usia 15-18 (23 persen). Gejala efek samping yang paling sering dikeluhkan adalah masalah kulit (45 persen) dan pencernaan (16,5 persen). Sekitar 52 persen anak dilaporkan juga mengalami reaksi alergi.

Obat antibakteri seperti penisilin merupakan obat yang paling sering menimbulkan efek samping. Menurut data ada 27,5 persen kunjungan gara-gara obat tersebut dan 40 persennya adalah anak berusia kurang dari 4 tahun.

Di urutan kedua dalam obat yang paling sering menimbulkan efek samping adalah obat-obatan saraf (6,5 persen) dan hormon (6 persen). Dua jenis obat ini biasanya diterima oleh pasien remaja, yang menggambarkan peningkatan penggunaan obat untuk gangguan emosional dan kontrasepsi di kalangan remaja.

Hasil studi tersebut dipublikasikan dalam jurnal ilmiah Pediatrics. Dalam laporannya, para peneliti menyarankan agar para dokter lebih berhati-hati dalam meresepkan obat untuk anak-anak hingga remaja. Selain itu. para dokter juga diharapkan bisa memberi informasi yang mungkin dibutuhkan para orangtua.

“Salah satu cara untuk mengurangi efek samping yang tak diharapkan adalah para dokter harus punya informasi yang lengkap mengenai efek samping suatu obat dan melakukan perbandingan efektivitas suatu obat. Informasi ini bisa didapatkan dari data dan bukti nyata penggunaan obat, bukan hanya dari keterangan di label obat,” kata Bourgeois.

Dengan semakin terdidiknya orangtua, seharusnya orangtua juga makin kritis terhadap rasional tidaknya peresepan yang dilakukan para dokter.

Sumber : http://kesehatan.kompas.com

Tag:,

About mjundi

aslibetawi rawabelong, hobby berpetualang, baca buku, olahraga, and wirausaha dll dech

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: