Soal pernikahan

Selebritis menikah dan Cerai, Berita selebritis menikah atau bercerai sudah merupakan konsumsi publik sehari-hari. Hal ini sering kita dengar baik dari media elektronik atau media surat kabar. Bahkan berita seputar ini sepertinya sudah menjadi sebuah ”hiburan” bagi publik melalui beragam acara yaitu infotainment. Perceraiannyapun memiliki Alasan yang macam-macam, ada yang karena kepribadian yang tidak cocok, masalah ekonomi yang sudah tidak mapan, perselingkuhan sampai karena kasus kriminal yang notabennya adalah membongkar aib diri sendiri (Na’udzubillah).

 

Yang lebih memprihatinkan lagi bagi sebagian mereka hal ini sepertinya senang di ketahui oleh banyak orang, bahkan terkesan dijadikan sarana publisitas gratis dengan di ekspos besar-besaran. Entah apa yang mereka cari. Padahal mereka adalah tergolong dari kalangan ekonomi berkecukupan dengan penghasilan juta-jutaan, paras dan wajah cantik dan tampan bahkan dari orang terdidik. Tetapi tetap saja perceraian selalu terjadi dan menjadi pilihan. Entah apa yang mereka lakukan pada saat awal perkenalan atau pacaran. Sehingga kebiasaan ini cenderung banyak diikuti oleh masyarakat awam karena mereka adalah publik figur. Walaupun perceraian dihalalkan dalam islam tapi sesuatu yang sangat dibenci dan tidak disukai oleh Allah.

 

Menikah selain untuk mencari kesenangan duniawi tentunya juga mempunyai misi yang lebih mulia atau agung. Jika hal ini diawali oleh niat dan tata cara yang baik. Niat yang baik adalah semata-mata agar mampu menjaga diri dari hal-hal maksiat. Insting biologis  merupakan bagian yang sudah diciptakan dalam diri setiap manusia. Maka dari itu agar manusia tidak terjerumus kepada perbuatan haram (zina) maka Allah sang pencipta menghalalkan menikah. Sebagaimana yang difirmankan dalam alqur’an :

 

”Maka nikahkanlah wanita-wanita (lain) yang engkau senangi dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu tidak akan dapat berlaku adil, maka nikahilah seorang saja atau budak-budak yang kamu miliki” (QS AnNisa : 3)

 

”Mereka itu merupakan pakaian bagimu dan kamupun adalah pakaian bagi mereka” (QS Al-Baqarah : 187)

 

Rasululloh SAW bersabda :

”Ada tiga golongan yang pasti ditolong oleh Allah yaitu : budak mukatab (seorang budak yang ingin memerdekakan diri dengan cara bekerja keras) yang ingin melunasi hutangnya, orang yang menikah demi menjaga diri dari perbuatan maksiat dan para pejuang di jalan Allah (HR tirmidzi, Nasai dan ibnu Majah)

 

Demikian penjelasan agama terhadap pernikahan, bahkan dengan niat yang benar pernikahan dua anak manusia merupakan bagian dari ibadah dan penyempurna sebagian diin (baca : agama).

 

Sedangkan tata cara yang benar adalah dengan memperhatikan beberapa segi. Baik dari segi akhlak, agama maupun perilaku keseharian. Sebagaimana yang dijelaskan dalam ayat alqur’an berikut ini.

 

”Dan nikahkanlah orang-orang yang sendirian diantara kamu serta orang-orang yang layak (untuk menikah) dari hamba-hamba sahayamu yang laki-laki maupun hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin, Allah akan memampukan mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah maha luas (pemberian-Nya) lagi maha mengetahui” (QS Annur : 32)

 

Ayat ini mensyaratkan adanya persesuaian (keserasian) didalam pernikahan, dimana kesemuanya itu dimaksudkan untuk tujuan bagi kemaslahatan. Yaitu agama, budi pekerti dan mampu untuk menikah. Karena Allah telah menentukan, bahwasanya akan ada orang yang berusaha menanyakan tentang status sosial didalam sebuah pernikahan.

 

Sedangkan yang dimaksud keserasian pada ayat tersebut adalah berpegang teguh kepada agama dan ajarannya. Adapun yang menjadi pokok adalah ilmu. Karena, ilmu merupakan khasanah yang tidak terbatas. Sedangkan ilmu disini adalah mempelajari alqur’an dan assunah serta  mengamalkan apa yang terkandung didalamnya kedalam kehidupan sehari-hari.

 

Adapun keturunan serta harta yang serasi bukanlah menjadi ukuran utama dalam agama islam. Rasulullah SAW pernah bersabda :

 

”Perempuan itu dinikahi karena empat hal. Yaitu, karena hartanya, keturunannya, kecantikannya, dan agamanya, namun nikahilah karena agamanya (jika tidak), niscaya kamu sengsara.” (HR Bukhari, Muslim, Abu daud dan An Nasa’i)

 

Sesungguhnya agama merupakan hal yang sangat penting didalam membina kehidupan berumah tangga. Sebab suami yang senantiasa taat pada perintah agama dan menjahui larangan-Nya akan menjadi suami yang baik bagi sang istri dan dapat dipercaya. Begitu juga dengan seorang istri yang shaliha, dimana ia akan menjaga kehormatannya, sangat perhatian dengan rumah tangganya, pendidikan anak-anak dan menjaga hak-hak suaminya. Karena agama merupakan penengah diantara dua kekuatan, yaitu amarah dan syahwat.

 

Melalui keterangan ini kita dapat memahami betapa pentingnya memilih pasangan bagi calon suami-istri dan hendaknya berhati-hati. Sebab, terburu-buru dalam mencari pasangan yang berdasarkan keindahan fisik semata akan berakibat buruk. Sedangkan cara memilih yang benar adalah, baik itu dengan melihat, direnungkan serta diteliti dari segi pendidikan dan akhlaknya.

 

Sebagian ulama memberikan berbagai nasihat tentang cara memilih pasangan hidup yang baik, sebagai berikut :

 

  1. Tanyakan, bagaimana pendidikan didalam rumah tangganya bukan menanyakan di mana ia sekolah.
  2. Menikah dengan puteri seorang yang shalih.
  3. Perkawinan merupakan kehidupan bersama, maka hendaknya memilih pasangan yang serasi denganmu, baik dari segi makanan, tabi’at maupun budi pekerti.      

 

 Kembali kepada kasus selebritis diatas, selebritis atau bukan semuanya adalah manusia yang pasti mencari kebahagian hidup dalam rumah tangga.  Selain ingin melestarikan keturunan sebagai generasi penerus keluarga, kehidupan rumah tangga merupakan tempat mencari ketenangan, ketrentaman dan tempat mencurahkan rasa kasih dan sayang.

Firman Allah dalam al-qur’an :

 

”Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri supaya kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya. Juga dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang mau berfikir” (QS ARRuum : 21)

 

Wallahu ’Alam

Untuk saudara(i) ku yang ingin mengakhiri masa lajang

By mjundi

Tag:,

About mjundi

aslibetawi rawabelong, hobby berpetualang, baca buku, olahraga, and wirausaha dll dech

3 responses to “Soal pernikahan”

  1. Habib Ghofar says :

    Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarokatuh…..

    Alhamdulillahi robbil alamin, wabihi nasta’in, wa ‘ala umuriddunya waddin,
    wassholatu wassalamu ‘ala asrofil anbiyaai walmursalin, sayyidina wa maulana Muhammadin shallahu alaihi wasallam,
    wa ‘ala alihi wa shohbihi ajma’in…..amma ba’du………

    Saudaraku, sungguh tulisan anda ini sangat baguslah sedemikian rupa, akan tetapi perlu saya kiranya untuk menambahkan sepotong firman Allah SWT dalam Al Quranul Karim yaitu Surah An Nuur Ayat 3:

    yang artinya:
    “Laki-laki yang berzina tidak mengawini melainkan perempuan yang berzina, atau perempuan yang musyrik; dan perempuan yang berzina tidak dikawini melainkan oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki musyrik, dan yang demikian itu diharamkan atas orang-orang yang mukmin.”

    kembali saya kutip “dan yang demikian itu DIHARAMKAN atas orang-orang yang mukmin”.
    Supaya jelas larangan Allah atas orang yang mukmin, karena banyak orang yag muslim belum tentu mukmin. Berhati-hatilah dalam mencari pasangan, anda punya hak untuk bertanya karena mungkin anda akan menikah untuk sepanjang hidup anda, dan anda tidak mau menyesal karena melakukan kesalahan besar, apalagi sampai mengalami perceraian.

    Karena zina itu termasuk faahisyah, dimana tertuang dalam Al Quranun Karim Surah Ali ‘Imran Ayat 135. Disana maksud perbuatan keji (faahisyah) ialah dosa besar yang mana mudharatnya tidak hanya menimpa diri sendiri tetapi juga orang lain, seperti zina, riba.
    Dosa faahisyah ini tidak akan berhenti begitu saja, ketika orang lain yang terkena mudharatnya mendapat masalah atau merasa terdlolimi Dosa itu kembali mengalir kepada keduanya.

    • mjundi says :

      Wa’alaikumussalam Wr,Wb.
      Alhamdulillahiladzi hadaana lihadza wamakunnalinahtadiya lawlaa an hadanallah, la hauwla wala quwwata illa billah.
      Syukron Katsiro Habib, sudah melengkapi artikel ini. Semoga bermanfaat bagi kemaslahatan ummat. Jazakumulloh Khairon Katsiro

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: