Ketika malas beribadah di bulan Ramadhan

Kenapa bulan ramadhan kita masih suka malas beribadah kepada Allah ?

Kondisi ini kerap dapat menimpa setiap orang bahkan bisa jadi kita sendiri yang sedang menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan. Enggan membaca al-qur’an, sholat taraweh masih suka bolong-bolong apalagi bangun dipertiga malam untuk qiyamullail serasa berat, sampai produktifitasa menurun dengan bermalas-malasan dalam menyelasikan pekerjaan kantor karena lebih banyak tidur disiang hari dengan alasan ”tidurnya orang puasa adalah ibadah”.

 

kalau kita membaca dan mempelajari bagaimana sikap atau model beribadah Rasululloh dan para sahabat di bulan ramadhan ternyata sangat jauh dan berbeda dengan kondisi kita di zaman sekarang. Dimana Rasullulloh dan para sahabat sangat memanfaatkan waktu selama di bulan ramadhan dengan memperbanyak ibadah di malam hari dan semangat produktifitas bekerja disiang hari. Hal ini dibuktikan dengan beberapa peristiwa kemenangan dalam beberapa peperangan yang dialami oleh para sahabat seperti terjadinya perang badar kubro terjadi pada bulan Ramadhan tahun kedua hijriyah dan futuh mekah terjadi pada bulan Ramadhan tahun  kedelapan hijriyah. Seolah olah mereka tidak ingin kehilangan momentum Ramadhan dengan memperbanyak dan begitu bersemangat untuk berjihad disiang hari dan khusyu beribadah di malam hari. Hingga mereka mendapat julukan ”Ruhbaniyatul fi lailli wa furshanun finnahr” (bagaikan Rahib-rahib yang khusyu beribadah di malam hari dan bagaikan singa yang gagah berani disiang hari) tanpa mengurangi sedikitpun produktifitas mereka. Sehingga hari-hari mereka banyak diisi dengan amal-amal ibadah bukan justru bermalas-malasan memperbanyak tidur dengan alasan lelah beribadah malam hari dan bangun makan sahur.

 

Rasululloh SAW dalam hadistnya banyak menyampaikan keutamaan dan keistimewaan yang terdapat dalam bulan suci ramadhan. Sehingga dengan banyaknya informasi keutamaan-keutamaan bagi orang yang berpuasa dan melakukan amal ibadah di bulan puasa semakin menjadikan para sahabat-sahabat rasul berlomba-lomba menggapai keutamaan tersebut. Sebagaimana pesan rasululloh yang tercatat terkait dengan pidatonya menyambut bulan suci Ramadhan

 

Pidato Rasulullah SAW. Imam Ibnu Khuzaimah dalam kitab At-Targhib Juz II/217-218 meriwayatkan suatu hadits dari shahabat Salman r.a yang mengatakan bahwa Rasulullah saw pada hari terakhir bulan Sya’ban berkhutbah di hadapan kaum muslimin, sebagai berikut : “Wahai manusia, sesungguhnya kalian akan dinaungi oleh suatu bulan yang agung lagi penuh berkah, yaitu bulan yang di dalamnya ada suatu malam yang lebih baik daripada seribu bulan; bulan yang oleh Allah telah menjadikan puasa-Nya suatu kewajiban dan qiyam (shalat) pada malam harinya suatu tathawwu’ (ibadah sunnah yang sangat dianjurkan).

Siapa saja yang mendekatkan kepada Allah dengan suatu perkara kebajikan (sunnah) di dalamnya, (ia diganjar pahala) sama seperti menunaikan kewajiban (fardhu) di bulan yang lain. Dan siapa yang menunaikan kewajiban di bulan Ramadhan, (ia diganjar pahala) sama dengan orang yang mengerjakan 70 kali kewajiban tersebut di bulan yang lain.

Ramadhan adalah bulan sabar, sedangkan sabar itu pahalanya adalah surga (al-jannah). Ramadhan itu adalah bulan memberikan pertolongan dan bulan Allah menambah rizki para mukmin di dalamnya. Siapa saja yang pada bulan itu memberikan makanan berbuka kepada orang yang puasa, maka perbuatan itu menjadi pengampunan atas dosa-dosanya, kemerdekaan dirinya dari api neraka, dan ia mendapatkan pahala seperti pahala orang berpuasa yang diberinya makanana berbuka itu tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu”. Para sahabat berkata : “Ya, Rasulullah, tidak semua dari kami memiliki makanan berbuka untuk orang-orang yang berpuasa.” Rasulullah saw pun menjawab : “Allah membrikan pahala tersebut kepada orang-orang yang memberikan sebutir kurma sekalipu atau sekedar seteguk air atau seteguk susu.

Bulan Ramadhan ini adalah bulan yang permulaannya adalah rahmat, pertengahannya adalah ampunan, dan akhirnya pembebasan dari api neraka. Siapa saja yang meringankan beban dari orang-orang yang dikuasainya (hamba sahaya atau bawahannya), niscaya Allah mengampuni dosanya dam membebaskan dari api neraka. Karena itu perbanyaklah empat perkara di bulan ramadhan ini. Dua perkara yang dengannya kalian menyenangkan Tuhan kalian dan dua perkara lainnya yang sangat kalian butuhkan. Dua perkara yang yang kalian lakukan untuk menyenangkan Tuhan kalian adalah: mengakui dengan sesungguhnya bahwa tiada Tuhan melainkan Allah dan kalian memohon ampun kepada-Nya. Adapun dua perkara yang sangat kalian butuhkan adalah kalian memohon surga-Nya dan berlindung dari api neraka. Siapa saja yang memberi minum  kepada orang yang berpuasa niscaya Allah akan memberinya minum dari air kolamku dengan suatu minuman yang dia tidak merasa haus lagi karenanya sehingga dia masuk surga.”

Subhanalloh… begitu besar keutamaan bulan suci Ramadhan. Sehingga patut bagi kita sebagai seorang muslim yang pertemukan kembali dengan bulan suci Ramadhan untuk bersyukur dengan memperbanyak amal ibadah seperti yang telah Rasululloh contohkan kepada kita sebagai umatnya. Semoga Ramadhan tahun ini adalah Ramadhan yang terbaik dalam hidup kita hingga tidak ada lagi kata malas dan besantai-santai untuk beribadah dan berkerja selama di bulan puasa. Amin..

Semoga……. ya Allah..

Ditulis oleh mjundi 8/09/08

 

Tag:

About mjundi

aslibetawi rawabelong, hobby berpetualang, baca buku, olahraga, and wirausaha dll dech

3 responses to “Ketika malas beribadah di bulan Ramadhan”

  1. Kang Nur says :

    😀 itu semua betul

  2. faisol says :

    amin…

    sebuah analisa yang cukup tajam… memang, seharusnya kita introspeksi (muhasabah) diri…

    terima kasih sharingnya…
    semoga bisa menjadi ilmu yg bermanfaat & Multi Level Pahala (MLP), amin…
    selamat Berpuasa… semoga segala ibadah kita diterima oleh Allah SWT, amin…

    sebagai pelengkap, saya membuat tulisan untuk menjawab mengapa kita masih didera malas beribadah, baik mahdhah maupun ghayru mahdhah, terutama di luar Ramadhan…

    tulisan tentang “Mengapa Pahala Tidak Berbentuk Harta Saja, Ya?”

    silakan berkunjung ke:

    http://achmadfaisol.blogspot.com/2008/08/mengapa-pahala-tidak-berbentuk-harta.html

    semoga Allah menyatukan dan melembutkan hati semua umat Islam, amin…

    salam,
    achmad faisol
    http://achmadfaisol.blogspot.com/

  3. mjundi says :

    Alhamdulillah..(Segala puji hanya bagi Allah)
    Syukron jazillan
    Salam ukhuwah Akhina Fillah Faisol

    wassalam
    mjundi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: